Pantai Slili Jogja

Kuliah Kerja Lapangan ke AAU Adisucipto Yogyakarta – Hari Kedua

Hari pertama KKL memang melelahkan. Karena memang, di situlah letak acara intinya. Selebihnya sih cuma asik-asik aja. Postingan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya, Kuliah Kerja Lapangan – Hari Pertama. Dan inilah yang terjadi pada hari kedua.

Memasuki Hari Kedua

Pukul 04.00, tanggal 31 Mei 2016, kami bangun dan solat subuh. Setelah itu ada yang tidur lagi, ada yang nonton tv, ada yang jalan-jalan keluar. Itinerary kami hari ini hanya tinggal dua tempat lagi, yaitu Goa Pindul dan Pantai Slili. Dalam rundown acara, kunjungan ke Goa Pindul diagendakan pukul 10.00, dilanjutkan oleh kunjungan ke Pantai Slili pukul 14.00.

Favehotel Jogja
Sarapan sebelum meninggalkan hotel

Sebelum meningalkan hotel, kami berkemas dan membersihkan badan. Setelah berkemas dan membersihkan badan, tibalah acara yang ditunggu-tunggu, yaitu makan pagi. Kami makan pagi prasmanan di hotel. Setelah satu-persatu dari kami makan, kami menuju bus untuk menuju ke destinasi selanjutnya.

Itinerary kami pada hari kedua:

1. Cave Tubing di Goa Pindul

Cave tubing @ Goa Pindul
Cave tubing @ Goa Pindul

Goa Pindul terletak di Gunung Kidul, saya sendiri baru tahu soal Goa Pindul ini. Goa Pindul ini Goa yang dilalui aliran sungai bawah tanah yang tenang, jadi wisatawan melaluinya menggunakan ban dalam mobil. Kegiatan ini katanya dinamai cave tubing. Untuk menyusuri goa ini dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit, katanya. Karena panjang goa ini sekitar 350 meter.

Dari parkiran bus, kami harus jalan dulu ke tempat pendaftaran peserta cave tubing. Setelah mendaftar, kami diharuskan memakai pelampung dan dilarang membawa benda-benda berharga. Setelah itu, ternyata lokasi goa masih jauh dari tempat pendaftaran. Dengan menggunakan mobil bak terbuka yang telah dimodif, kami menuju lokasi goa yang agak jauh dari tempat pendaftaran.

Saya sudah membawa waterproof case untuk melapisi handphone agar tidak basah. Saya juga membawa uang entah untuk apa. Pada akhirnya tidak terpakai juga. Sampai di mulut goa, kami diwajibkan mengambil satu buah ban dalam dan mengantre untuk ber-cave tubing satu-persatu.

Setiap peserta cave tubing harus berpegangan pada peserta lainnya agar tetap berjalan dan tidak terputus. Seperti kereta api yang ditarik dari depan dan belakang oleh para instruktur sekaligus guide. Mereka sangat mengerti sejarah goa ini, bahkan kedalaman, lebar, tinggi, serta panjangnya. Mereka juga bisa berbahasa Inggris. Jadi buat kamu yang nggak bisa bahasa Indonesia, jangan khawatir.

Sisi dalam Goa Pindul
Sisi dalam Goa Pindul

Setelah keluar dari mulut goa di sisi yang lain, kami bebas berenang di air. Boleh keluar dari ban dalam, asal tidak membuka rompi pelampung. Karena katanya di bawah kami ada jurang ke bawah tanah yang terhubung dengan goa. Seorang teman, sebut saja Yulio, secara tak sengaja menenggelamkan action cam sewaannya. Kami semua panik. Mas-mas guide-nya juga panik. Bapak-bapak tukang ngumpulin bannya juga panik. Semua yang ada di situ panik.

Baru saja dibilang bahwa di bawah kami ada jurang yang terhubung ke dalam bawah goa. Yang artinya hampir apapun yang tenggelam di sana berpeluang amat kecil untuk selamat. Berbagai upayapun dilakukan demi mencari action cam yang tenggelam ini. Namun apa daya, nasib action cam tersebut tak terselamatkan, berikut file-file foto dan video di dalamnya.

2. Mengintip Keindahan Tersembunyi Pantai Slili

Pantai Slili yang tersembunyi
Pantai Slili yang tersembunyi

Salah satu pantai indah di Yogyakarta adalah pantai Slili. Lokasinya masih berdekatan dengan pantai Sadranan. Setelah puas ber-cave tubing di Goa Pindul, lalu mandi dan ganti baju, kami malah pergi ke pantai. Kan sama saja harus berbasah-basahan lagi.

Begitu kami keluar dari bus, langsung tercium wangi khas pantai yang amis-amis gimana gitu. Kami disambut oleh suara ombak yang bersahut-sahut. Pantai Slili berpasir putih, pantainya sendiri tidak terlalu landai. Atau mungkin pada saat itu airnya sedang pasang? Saya tidak tahu, yang jelas waktu itu ombaknya lumayan kencang untuk ditaklukkan.

Tidak banyak yang kami lakukan di pantai selain bermain ombak, berfoto-foto, jajan-jajan, dan bengong. Karena mau ngapain lagi? Berjemur tidak bisa, berselancar tidak bisa, menikmati wahana pantai juga tidak ada. Bagus lah, biar terjaga kealamiannya.

Membuat Laporan KKL

Dari serangkaian kegiatan menyenangkan, biasanya ada satu bagian yang tidak menyenangkan. Itu sudah seperti hukum alam. Maka KKL pun juga demikian. Kegiatan tidak menyenangkan dari serangkaian kunjungan kami selama KKL ini adalah membuat laporan.

Di samping membuat laporan, kami juga diharuskan membuat feature berbahasa Inggris tentang apapun yang dapat ditulis selama kunjungan-kunjungan ke destinasi-destinasi KKL yang telah disebutkan di atas. Untungnya, laporan KKL kami dibuat dalam Bahasa Indonesia. Kalau bahasa Inggris juga, entah apa jadinya.

Leave a Comment